Home Artikel Keagamaan Mental Model Tsa’labah
Artikel Keagamaan

Mental Model Tsa’labah

Dalam Ihya’ Ulumuddin, karya agung Imam Al-Ghazali, terdapat satu kisah yang sangat menggugah tentang seorang bernama Tsa’labah. Kisah ini muncul dalam pembahasan tentang bahaya cinta dunia dan fitnah harta—sebuah peringatan bahwa harta bukan sekadar nikmat, tetapi juga ujian yang bisa mengubah hati manusia.

Sebelum masuk ke ceritanya, ada catatan penting.

Secara sanad hadits, kisah Tsa’labah ini memang diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ahli hadits seperti Ibnu Hazm, Ibnu Hajar al-Asqalani, dan Al-Albani menilai sanadnya lemah, bahkan ada yang menyebut sangat lemah. Ada pula yang mempertanyakan penisbatan kisah ini kepada sahabat Tsa’labah bin Hathib karena beliau dikenal sebagai sahabat yang ikut perang Badar.

Namun menariknya, para ulama tazkiyatun nafs tetap banyak menukil kisah ini—bukan untuk menetapkan vonis historis pada tokohnya, tetapi untuk mengambil ibrah tentang sifat manusia, penyakit hati, dan jebakan dunia. Dan jujur saja… jika kita renungkan, kisah ini terasa sangat relevan dengan zaman hari ini.

Ada seorang lelaki bernama Tsa’labah. Ia bukan orang kaya. Hidupnya sederhana. Tetapi ia rajin beribadah. Hampir selalu hadir bersama Rasulullah ﷺ dalam shalat berjamaah. Suatu hari ia datang kepada Rasulullah ﷺ. “Ya Rasulullah, doakan aku agar Allah memberiku harta.” Rasulullah ﷺ menjawab dengan nasihat yang sangat dalam.

“Wahai Tsa’labah, sedikit yang mampu engkau syukuri lebih baik daripada banyak yang tak sanggup engkau tanggung.”  Sebuah nasihat yang sesungguhnya bukan tentang jumlah harta. Tetapi tentang kapasitas hati. Bahwa masalah utama bukanlah “punya banyak atau sedikit”, melainkan: apakah hati kita siap? Namun Tsa’labah tetap meminta. Ia yakin jika kaya, hidupnya akan lebih baik. Ia yakin jika punya banyak harta, ibadahnya akan semakin maksimal. Ia yakin masalahnya adalah kekurangan uang.

Akhirnya Rasulullah ﷺ mendoakannya.

Allah pun memberinya rezeki. Awalnya ia hanya memiliki beberapa ekor kambing. Lalu kambing itu berkembang biak. Semakin hari semakin banyak. Sedikit demi sedikit hidup Tsa’labah berubah. Dulu ia punya banyak waktu untuk masjid. Sekarang waktunya habis untuk mengurus ternak. Awalnya ia masih shalat berjamaah. Lalu mulai bolong satu waktu. Kemudian dua waktu. Lalu ia hanya datang saat Jumat. Tidak lama kemudian…bahkan Jumat pun mulai ditinggalkan.

Inilah cara dunia mengambil hati manusia. Jarang instan. Hampir selalu bertahap. Tidak langsung membuat orang meninggalkan kebaikan sepenuhnya. Tetapi pelan-pelan. Sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya ia tidak sadar betapa jauh ia telah berubah. Saat syariat zakat diturunkan, Rasulullah ﷺ mengutus petugas untuk mendata dan mengambil zakat dari kaum muslimin yang mampu. Petugas itu mendatangi Tsa’labah.

Namun responsnya mengejutkan. Ia keberatan. Ia tidak rela. Bahkan dalam riwayat disebutkan ia berkata, “Ini tidak lain hanyalah semacam pajak.” Kalimat ini menunjukkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar enggan mengeluarkan uang. Ada perubahan cara pandang. Dulu ia melihat harta sebagai amanah. Sekarang ia melihat harta sebagai miliknya sepenuhnya. Dulu ia meminta harta sambil berjanji akan taat. Sekarang ketika harta datang, ia merasa berat menunaikan hak Allah di dalamnya.

Dan di sinilah inti tragedi Tsa’labah. Masalahnya bukan pada kambing. Bukan pada uang. Bukan pada kekayaan. Masalahnya adalah mental model. Ia memiliki mental model yang keliru:

  • “Kalau aku kaya, hidupku pasti lebih baik.”
  • “Kalau masalah finansial selesai, masalah spiritual juga selesai.”
  • “Aku akan lebih taat nanti ketika kondisi membaik.”

Padahal sering kali justru sebaliknya. Banyak orang taat saat sempit. Tetapi berubah saat lapang. Banyak orang dekat kepada Allah saat butuh. Tetapi menjauh ketika merasa cukup.

Tsa’labah akhirnya menyesal. Ketika ia sadar, semuanya sudah terlambat. Ia datang membawa zakat. Tetapi penyesalan selalu terasa mahal ketika datang terlambat.

Kisah ini bukan sekadar tentang seseorang di masa lalu. Ini cermin bagi kita semua. Berapa banyak dari kita yang diam-diam memiliki mental model seperti Tsa’labah? Kita berkata:

“Kalau income-ku naik, aku akan lebih banyak sedekah.”
“Kalau bisnis sudah stabil, aku akan lebih rajin ngaji.”
“Kalau target karier tercapai, aku akan lebih dekat dengan Allah.”

Tetapi pertanyaannya: Apa jaminannya?

Kalau hari ini dengan yang sedikit saja kita belum taat, apa yang membuat kita yakin saat banyak nanti kita akan lebih taat? Kalau hari ini waktu kita belum kita prioritaskan untuk Allah, apa yang membuat kita yakin ketika tanggung jawab bertambah kita akan lebih dekat kepada-Nya?

Harta tidak pernah mengubah isi hati. Harta hanya memperbesar apa yang sudah ada di dalam hati. Kalau hatinya penuh syukur, harta akan melahirkan kebaikan.Kalau hatinya penuh cinta dunia, harta hanya akan memperbesar kelalaian.

Maka pelajaran besar dari kisah ini sederhana:

Jangan memiliki mental model Tsa’labah. Jangan berpikir bahwa dunia akan menyelesaikan kegersangan ruhani. Jangan merasa kita akan menjadi lebih baik “nanti” setelah semuanya tercapai. Karena sering kali, ujian kekurangan membuat kita menangis kepada Allah. Tapi ujian kelapangan membuat kita lupa kepada Allah.

Semoga Allah menjaga hati kita. Memberi kecukupan yang mendekatkan. Bukan kelapangan yang melalaikan.

Aamiin.

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Agar Sholat Lebih Khusu

Sahabat Garut Utara, pernahkan Anda merasakan sholat yang anda lakukan serasa kering,...